PONCOKUSUMO- Memasuki hari keempat, tim ekspedisi Jelajah Seribu Coban berhasil menembus Coban Wagio. Ibarat seorang perempuan, air terjun yang berada di Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo ini benar-benar masih perawan ting-ting. Tak sekadar perawan, coban setinggi 25 meter ini juga menawarkan kemolekan yang membuat siapa saja takjub.
Air terjun di areal lahan Perhutani KPH Malang ini jatuh di antara sisi dua tebing yang menghimpitnya. Di antara bebatuan sungai dengan beragam ukuran ini, luberan air coban mengalir membentuk coban kecil, bertumpuk-tumpuk. Airnya pun sangat bening, sebening air mineral dalam kemasan. ”Duh, segarnya…!,” ungkap Doli Siregar, anggota tim Jelajah Seribu Coban usai mereguk air mengalir dari coban kemarin.
Aliran air Coban Wagio ini memang sangat bening. Saking jernihnya, bebatuan maupun kerikil yang ada sepanjang aliran sungai ini, terlihat begitu jelas. Karena kejernihan dan kesegaran airnya itu, menggoda siapa saja untuk mereguknya. Yang menjadi kelebihan air dari coban ini, di musim apapun, termasuk musim penghujan, airnya tetap jernih. Ini karena aliran airnya langsung dari Sumber Hayek-Hayek yang ada di bagian atas wilayah Poncokusumo. Aliran sumber air ini mengalir terus menuju Sungai Lesti.

Selain menggoda untuk diminum, aliran Coban Wagio ini juga menggoda untuk diceburi. Tim Jelajah Seribu Coban pun akhinya tak kuat dengan godaan untuk segera merasakan segarnya aliran air dari coban ini. Tidak lama setelah melakukan eksplorasi di kawasan ini, tim jelajah pun langsung menceburkan diri ke aliran air.
Rasa lelah setelah menyusuri hutan menuju coban ini serasa hilang setelah merasakan kesegaran air. ”Ini sajian alam terbaik yang kami temui di hari keempat penjelajahan. Tempatnya juga masih alami,” sambung Doli.
Ya, untuk mencapai Coban Wagio memang tidak mudah. Butuh nyali tinggi dan perjuangan keras. Dari perkampungan penduduk, berjarak sekitar 4,5 kilometer. Dari jarak itu, sepanjang 1,5 kilometernya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua. Sedangkan, sisanya sejauh tiga kilometer harus dilalui dengan jalan kaki.
Butuh kewaspadaan tinggi saat menembus jalan setapak itu. Karena jalan begitu sempit, tak lebih dari 50 sentimeter, jalan juga licin. Padahal, di sisi kanan-kiri jurang sangat curam. Sepanjang jalan juga ditumbuhi rumput ilalang. Sehingga, sembari berjalan, tim jelajah juga harus memotong rumput yang menghalangi perjalanan.
Perjuangan tak cukup di situ. Usai melintasi jalan setapak yang dihadapkan langsung dengan jurang, tim jelajah masih harus melintasi aliran sungai dari Coban Wagio. Karena tidak ada jalan lain, tim jelajah harus menceburkan diri ke aliran sungai. Dan tidak hanya sekali memotong sungai ini untuk mencapai coban, tapi sebanyak 17 kali. Selebihnya, menyisiri jalanan di pinggir sungai ini.

Selain memotong sungai, juga terpaksa menyusuri sungai, karena tidak ada jalan lain. Pada beberapa titik harus memilih melompati bebatuan di sepanjang aliran sungai ini. Sebab, tidak jarang di antara aliran sungai ini memiliki kedalaman lebih dari satu meter.
Selain harus berhati-hati memilih batu pijakan, terkadang juga dihadapkan pada dua pilihan untuk memilih aliran sungai mana yang harus ditempuh. Sebab, kerap jalur sungai yang disisiri terbelah menjadi dua.
Perjalanan kian berat karena pilihan terbaik menyisiri sungai ini, terhalang dengan pepohonan bambu yang tumbang melintang di tengah-tengah sungai. Beruntung, Sumanat, guide yang mendampingi tim Jelajah Seribu Coban maupun pendamping lainnya membawa peralatan sabit, gergaji, dan tali. Di saat jalur sungai tidak bisa dilalui, tim jelajah harus membuat jalan sendiri dengan menggunakan bantuan tali.
Yang menyenangkan, selama menuju Coban Wagio, tim jelajah ditemani kru dari Perum Perhutani KPH Malang, juga didampingi sejumlah elemen. Mulai dari LKDPH (Lembaga Kemitraan Desa Penguasaan Hutan), komunitas trail Semot (Semeru Motor Trail) X, hingga pemandu wisata lokal.
Ketiga elemen yang mendampingi tim jelajah ini juga terlihat bersemangat untuk mengembangkan potensi yang ada di wilayahnya untuk dimanfaatkan sebagai objek wisata baru. Bahkan, saat ini elemen masyarakat ini tengah membuat jalur menuju kawasan Coban Wagio.
Jalur yang dibuat untuk kendaraan jenis roda dua. Setelah jalurnya rampung, akan dilanjutkan dengan pembuatan tangga untuk menuruni tebing. (yak/c1/abm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar